Minggu, 25 Maret 2012

Sayap-sayap dua warna. Kembali ke awal.

Goresan keduabelas

(Jalan menuju Neraka)

Minggu, 09 Oktober 2011

Di angkasa yang mulai dipenuhi awan bergemuruh malam itu, dua sosok dengan satu sayap mereka saling bertarung. Keduanya tak henti terbang menuju satu sama lain dengan pukulan-pukulan mereka.
Pada suatu ketika, Zulletri menghempas raga Violin hingga membuat Malaikat bersayap satu itu terpelanting ke bawah dari angkasa dan terjatuh merunduk pada sebuah atap gedung. Melihat hal itu, Zulletri menjulurkan lengan kirinya ke arah Violin hingga saling bermunculan garis-garis pudaran hitam yang terjulur begitu cepat kepada Violin yang saat itu masih merunduk dan menatap lekat garis-garis hitam yang kian dekat dengannya, dan sedetik sebelum puluhan garis hitam itu menghujam Violin. Violin bangkit dengan sebuah hentakan yang mampu membentangkan cahaya semu dan terpancar begitu terang meleburkan garis-garis hitam. Zulletri terkejut oleh hal tersebut, namun dia lebih terkejut saat menatap Violin yang terbang begitu cepat kepadanya.
“Kau siap merasa sakit, Zull?” teriak Violin dan saat itu cahaya menyelubung jemarinya kemudian berubah menjadi cakar-cakar cahaya yang segera dikibaskan kepada Zulletri.
Zulletri beranjak mundur menghindari cakar Violin yang kini ada tepat di hadapannya. Tanpa membuang waktu, Zulletri menghentakkan dirinya hingga membentangkan pudaran hitam ke segala penjuru dan juga menghempas Violin yang saat itu ada di hadapannya. Sesaat Violin terpelanting tak terkendali ke belakang, namun tak lama kemudian dia terbang membusur begitu cepat dan segera tiba jauh di belakang Zulletri yang saat itu berbalik menatapnya. Violin mengibaskan sayapnya kepada Zulletri hingga cahaya terbentang beriring dentuman kerasnya yang dengan telak menerjang Zulletri hingga Iblis itu terlempar ke belakang begitu deras. Violin terbang menuju terhempasnya Zulletri dan dalam sekejap dia tiba di hadapan Zulletri dengan tangannya yang mencengkeram pundak Zulletri.
“Kau begitu mengecewakan untuk ukuran titisan Zheroich, Zull!” olok Violin sambil mengeratkan cengkeramannya hingga cakar-cakar cahayanya menghujam sadis pundak Zulletri. “Kau begitu lemah.” Violin melempar tubuh Zulletri ke atas hingga Iblis itu terpelanting tak terkendali menembus awan.
Zulletri berusaha mengendalikan dirinya yang terus terhempas ke atas dan semakin jauh dengan Violin yang kini tak lagi terlihat karena tertutup awan. Zulletri membentangkan sayapnya hingga dia mampu terhenti, dan dia segera mengerang kesakitan akan pundaknya yang tercabik oleh cakar Violin. Luka itu dicengkeramnya begitu erat mencoba mengusir sakitnya. Namun seketika itu dia dikejutkan dengan munculnya hempasan cahaya dari bawah dan meluncur deras kepadanya. Zulletri segera berpaling menghindari cahaya itu dan menatap ke bawah di mana awan yang tadi menggantung di bawahnya kini telah terhempas menyingkir oleh cahaya itu, dan saat itu dia mampu menatap Violin yang mengibaskan sayapnya hingga bentang cahaya kemilau terhempas ke arahnya.
Zulletri menjulurkan kedua tangannya ke arah cahaya yang melesat deras itu hingga sesaat sebelum bentang cahaya menerjangnya, pudaran hitam menyeruak di hadapan kedua tangannya dan menerjang cahaya itu. Ledakan yang menggelegar seketika terjadi beriring dengan cahaya yang terpancar begitu terang ke penjuru langit malam itu, dan meski Zulletri berhasil luput dari terjangan cahaya, tabrakan pudaran hitam yang dia ciptakan dengan bentang cahaya Violin membuat kedua lengannya mengalami luka bakar yang juga menyayat-nyayat kulitnya.
“Sial,” umpat Zulletri yang saat itu tergantung lemah di antara cahaya yang kian menipis. Dari luka di kedua tangannya mulai mengalirkan darah.
“Kau sudah kesakitan?” teriak Violin saat bentang cahaya benar-benar hilang, dan Violin terbang menuju Zulletri dengan kibasan-kibasan sayapnya ke arah Zulletri. Ribuan bentang cahaya tercipta dari setiap kibasan sayap Violin dan saling terpancar bertubi kepada Zulletri yang saat itu mencoba menghindari setiap pancaran cahaya yang terhempas kepadanya.
Violin terus bergerak mendekati Zulletri dengan kibasan-kibasan sayapnya hingga jutaan cahaya terbentang dan meluncur deras kepada Zulletri yang saat itu dengan cermat menghindari setiap bentang cahaya Violin. Dalam sekejap tubuh Violin berada tepat di hadapan Zulletri, dan dengan segera dia menghujamkan tendangan keras yang saat itu ditahan dengan tendangan keras Zulletri.
“Apa kalian para Malaikat selalu saja sombong seperti ini?” bentak Zulletri keras sambil menghempas Violin dengan kakinya.
Violin kembali terpelanting ke bawah dengan sangat tak terkendali, sementara Zulletri mulai terbang lebih tinggi sebelum dia berteriak begitu keras sambil menjulurkan kedua tangannya ke arah Violin. Sejurus kemudian diagram iblis yang lebar tercipta di hadapan tangan Zulletri hingga saling terjulur benang-benang cahaya merah yang meluncur ke arah Violin. Kemudian benang-benang cahaya itu serta merta berubah menjadi kobaran-kobaran api yang saling bersatu dan menyembur ke arah Violin.
“Lumayan.”
Violin membentangkan sayapnya dan terbang menyambut api dengan sebuah juluran tangannya yang saat itu mampu menciptakan celah kosong di antara semburan api yang saling berkobar di sekitarnya. Secara perlahan Violin beranjak ke atas menembus semburan api dengan tangannya yang terjulur membelah api. Di sekitarnya api saling menjilat-jilat dan terhempas ke segala arah. Panas yang dihasilkan api itu setidaknya telah sedikit membakar raga Violin hingga bulir-bulir keringat bercucuran di sekujur tubuh Violin. Namun Violin terus mengibaskan sayapnya guna tetap melaju menembus api dari Zulletri di atas sana.
“Kurang ajar!” umpat Zulletri saat menyadari adanya tekanan dari Violin yang kian mendekat, dan saat itulah Zulletri mengangkat tangan kirinya ke atas sementara tangan kanannya tetap menjaga keutuhan diagram Iblisnya. Seketika kekuatan Zulletri terbagi saat secara samar muncul diagram Iblis lain di atas tangan kirinya yang terjulur. Dan dengan sekali sentakan, Zulletri menjunjung tangan kanannya hingga diagram Iblis di atasnya kian terang sementara diagram Iblis yang mengobarkan api kepada Violin lenyap. Zulleti berteriak keras dan terbang lebih tinggi ke atas. Sejurus kemudian api menyeruak dari diagram Iblis di atas Zulletri dan saling bergulung menjadi sebuah bola api yang sangat membara. Dalam sedetik selanjutnya Zulletri kembali berteriak hingga gumpalan api di atasnya menyembur kian besar dan kian terang hingga bola apinya kian besar berkali lipat.
Violin dengan sekali hentakan mampu menghempas semburan api yang sedari tadi menerjangnya, namun saat itu dia segera terperangah melihat sosok Zulletri nan jauh di atasnya dengan sebuah bola api membara yang sedemikian besarnya. Lidah-lidah api saling meletup dari bola mahadahsyat yang kian lama kian membesar itu. Bahkan Violin mampu merasakan tekanan panas yang luarbiasa membakar kulitnya dari bola api raksasa di atas Zulletri.
Zulletri berteriak kian keras hingga energi Iblisnya berkobar kian kuat. Hal itu memicu dengan kian besar dan membaranya bola api di atasnya berkali lipat. Kemeja hitam Zulletri bahkan berkelebat begitu cepat oleh tekanan dari bola api raksasa di atasnya kini. Dia kembali berteriak lebih keras lagi hingga bola api mahabesar di atasnya itu kembali mengembung dan kian raksasa dan dengan sebuah hentakan, bola api raksasa itu dihempas ke arah Violin.
“Mau bermain dengan diagram?”
Violin menatap tajam bola api mahabesar dan maha panas yang melesat deras ke arahnya. Di sudut matanya bahkan api yang sangat membara itu telah menutupi langit.
Violin berteriak dan menjulurkan tangan kanannya ke arah bola api raksasa itu hingga menciptakan sebuah lingkaran lebar bercahaya perak dengan lambang sebuah sayap. Diagram cahaya itu bersinar dengan terang dan berterjangan begitu deras dengan bola api raksasa dari Zulletri. Sesaat kedua wujud itu saling beradu, namun dengan seketika diagram cahaya dari Violin pecah berkeping. Violin yang terkejut segera terbang menjauh ke bawah menghindari terjangan bola api yang seolah menjadi wujud matahari di malam itu.
Violin kembali berpaling dan terhenti menatap bola Jahanam yang kian membuatnya terbakar itu. Dia kembali menjulurkan tangannya untuk menciptakan sebuah diagram cahaya yang kembali berterjangan dangan bola api yang sangat membara itu. Tak cukup lama berselang, diagram cahaya Violin kembali pecah berkeping, dan Violin kembali terbang menjauh ke bawah menghindari terjangan bola api.
Violin berkali-kali melakukan hal yang sama. Telah puluhan diagram cahaya yang dia ciptakan untuk menghentikan laju bola api yang nampak kian membara itu, namun seberapa kali dia terbang ke bawah dan menciptakan diagram cahaya, diagram cahaya itu selalu pecah dan hancur.
Violin terbang menjauh ke bawah saat dia gagal menghentikan bola api dengan diagram cahayanya. Kali ini dia terus terbang dengan panik menjauhi ancaman bola api di atasnya. Namun seketika sebuah harapan terbesit di benaknya.
“Hancurlah!” ucap Violin pelan sambil memutar tubuhnya di udara hingga cahaya mulai terpancar dari tubuhnya yang terus berputar. Sayapnya yang hanya satu itu melambai indah dalam putaran Violin yang semakin pelan. Kian pelan dan lebih pelan lagi sebelum terhenti menghadap bola api yang kian dekat. Sedetik kemudian muncul putaran cahaya yang segera berubah menjadi sebuah diagram cahaya yang begitu benderang di bawah kaki Violin. Violin memejamkan matanya dan dengan pelan dia menjulurkan tangan kanannya ke arah bola api. Seketika diagram cahaya di bawah kakinya berputar dan terbang melayang menembus tubuh Violin dan kini berada tepat di atasnya.
Violin membuka matanya dan seketika diagram cahaya di atasnya kian benderang dan dengan begitu cepat terbentang melebar hingga ratusan meter.
Dalam sekejap bola api mahabesar dan begitu membara itu berterjangan keras dengan digaram cahaya terakhir Violin hingga menciptakan sebuah bentangan getaran luar biasa yang juga bersambut dengan sebuah gelegar yang menggetarkan langit.
Violin kembali terbang begitu cepat ke bawah dan terhenti menatap diagram cahayanya yang terus membendung ancaman bola api yang selalu memberontak. Api saling menyeruak dari bola api itu mencoba menembus pertahanan perisai cahaya Violin.
“Musnahlah!” pekik Violin keras. Dan seketika itu ledakan dahsyat yang melibatkan cahaya dan api tercipta bersambut dengan gelegar mahadahsyat yang membahana ke penjuru langit. Api dan cahaya saling teraduk dalam ledakan itu dan saling terbentang menerangi angkasa malam itu hingga malam terasa begitu benderang oleh kuasa ledakan yang terus menggelegar tersebut.
Raga Violin terpelanting deras ke bawah oleh efek getaran dahsyat dari ledakan itu. Dengan tak terkendali dia meluncur ke bawah meninggalkan luapan api dan cahaya yang masih bergemuruh begitu keras di atasnya.
Sesaat di ujung mata Violin yang didominasi oleh lautan cahaya dan api yang begitu membara, dia mampu menangkap setitik warna hitam yang melesat ke arahnya. Titik itu kian besar hingga diketahui Violin sebagai sosok Zulletri yang terbang menujunya penuh amarah. Dalam sekejap Zulletri sampai di hadapan Violin dengan sebuah pukulan yang dia lancarkan. Violin dengan cakap menahan pukulan Zulletri dengan cengkeraman tangannya namun saat itulah diagram Iblis tercipta dari pukulan Zulletri hingga membuat Violin terpelanting deras ke bawah dengan tangan kanannya yang terselubung api hasil dari terjangannya dengan diagram Iblis Zulletri.
“Sial!” umpat Violin yang dengan deras terus terpelanting ke bawah. Dia mengibaskan tangannya yang terbakar api hingga api itu terhempas menjauh dari tangannya.
Zulletri kembali menjulurkan tangannya ke arah Violin, dan diagram Iblis kembali muncul beserta semburan apinya kepada Violin.
Violin membentangkan sayapnya hingga dia terhenti dan sedetik kemudian dia menjulurkan tangannya ke arah api yang saat itu terbelah dan saling bergulung di sekitar tubuhnya. Dia menghentakkan tangannya hingga api yang bergulung di sekitarnya terhempas menjauh.
“Kau ketakutan?” ucap Zulletri yang saat itu muncul di hadapan Violin dengan diagram Iblisnya yang kembali mengobarkan api kepada Violin. Namun dengan segera Violin mengibaskan tangannya hingga api itu terbelah dan luput membakar tubuhnya.
“Kurasa kaulah yang ketakutan, Zull!” balas Violin sambil menghempas dirinya ke samping Zulletri.
Zulletri spontan berpaling menatap Violin dengan diagram Iblisnya, namun dengan segera Violin kembali mengibaskan tangannya hingga diagram Iblis Zulletri pecah sebelum sempat mengobarkan apinya. Zulletri sesaat terkejut namun dia berhasil menangkis pukulan Violin yang dengan deras menerjangnya. Saat itulah diagram cahaya tercipta dari pukulan Violin hingga dengan deras Zulletri terhempas ke bawah dengan jeritannya.
“Inilah permainan diagram.”
Seketika itu dari diagram cahaya yang diciptakan Violin terpancar pilar cahaya yang dengan cepat meluncur kepada Zulletri yang terus terpelanting tak terkendali ke bawah. Zulletri yang melihatnya dengan segera terhenti dan menahan pancar cahaya yang terus terjulur dari Violin, namun dalam sekejap pilar cahaya itu meledak begitu dahsyat hingga tercipta gelegar keras yang menggemparkan malam itu. Zulletri kembali terpelanting ke bawah dan lebih tak terkendali dari sebelumnya meninggalkan cahaya sisa-sisa ledakan, dan saat itulah dengan sekejap Violin muncul tepat di atasnya.
“Terkejut?” tanya Violin sambil membentangkan kedua tangannya. “Belum saatnya kau terkejut, Zull.” Seketika diagram cahaya yang begitu lebar dan berpendar tercipta di hadapan Violin yang saat itu terbang menembusnya. Begitu keluar dari diagram cahaya, sosok Violin telah dipenuhi cahaya, dan dengan kecepatan bagai kilat dia melesat menerjang Zulletri.
Zulletri menjerit saat cakar Violin mencabik dadanya, namun saat itu pula raga Violin yang bagaikan kilat itu terus melesat dengan terjangan-terjangan terhadap Zulletri yang kian keras menjeritkan lukanya. Zulletri terus terhempas tak terkendali ke berbagai penjuru setiap kali tubuh Violin yang melesat bertubi bagai garis-garis cahaya itu menerjangnya. Hingga pada akhirnya Violin menghujam tubuh Zulletri ke bawah, dan membuat Zulletri terpelanting deras ke bawah menepis tekanan udara langit malam itu.
Raga Violin kembali muncul di hadapan Zulletri yang terus terpelanting, dan segera mencengkeram kaki kiri Zulletri. Violin mengibaskan tubuh Zulletri berulang kali dalam suatu putaran tubuhnya, dan akhirnya Violin menghempas dengan cepat tubuh Zulletri ke bawah. Dengan kecepatan cahaya Violin menyusul Zulletri yang terus terpelanting dan segera menghujamkan sebuah tendangan yang dengan telak menghujam perut Zulletri. Zulletri menjerit keras saat tendangan Violin mampu membuatnya dengan lebih deras terpelanting ke bawah.
“Kau Iblis paling menyedihkan, Zulletri!”
Dengan sekejap tubuh Violin muncul di atas Zulletri dan segera mencengkeram erat leher Iblis itu. Violin kembali memutar tubuhnya hingga Zulletri yang masih dicekik olehnya terombang-ambing dengan kencang, sebelum pada akhirnya Violin menghempas Zulletri ke bawah begitu cepat.
Tubuh Zulletri terpelanting dengan deras dan terus terjatuh dari angkasa sebelum dengan keras tubuhnya menerjang atap gedung yang saat itu meretak.
“Kurang ajar!” umpat Zulletri yang dengan tertatih berupaya berdiri, namun dia kembali tersungkur dengan rintihannya.
Violin muncul dari angkasa dan berdiri tegap di hadapan Zulletri yang masih berusaha berdiri dengan tertatih. Di hadapan Violin, tepat berselang dua gedung Dhian masih saja menangis. Mata Violin menatap ke arah Dhian selama beberapa saat, namun dia kembali menatap Zulletri yang kembali tersungkur tak berdaya di hadapannya.
“Terjatuhlah, Zull! Tetaplah merintih di hadapanku bila kau tak lagi mampu berdiri!” kata Violin datar.
Zulletri yang merintih pada atap gedung dan tepat di hadapan kaki Violin menatap penuh benci kepada Malaikat bersayap satu itu. Dia menatap tajam ke arah mata Violin yang justru setenang udara. Sebelum secara tiba-tiba mata Zulletri berubah derastis. Dari sebelumnya menatap benci ke arah Violin, kini membelalak lebar menyiratkan keterkejutannya.
Violin yang mampu menyadari akan hal apa yang membuat Zulletri terkejut pun ikut terkejut. Matanya terbuka begitu lebar saat merasakan angin kelam yang berhembus di balik punggungnya beriring dengan suara bisikan-bisikan mengerikannya. Dengan segera Violin berpaling dan saat itulah angin kelam berhembus kencang menerpa tubuhnya. Sayapnya melambai deras oleh terpaan udara yang semakin lama semakin kencang itu.
Mata Violin terpicing mencoba menatap menembus angin, namun saat secara tiba-tiba terdengar raungan mengerikan di hadapan tubuhnya, dengan segera dia melompat dan terbang menjauh meninggalkan gedung yang saat itu runtuh sebelah saat sebuah putaran dimensi bercahaya merah kehitaman muncul dan seketika membesar. Dalam sekejap putaran dimensi itu mewujud menjadi sebuah lubang antar dimensi yang berputar begitu cepat hingga muncul arus angin sangat kencang yang tersedot masuk ke dalam lubang Iblis tersebut. Zulletri yang masih meringkuk di sisi atap yang luput dari hancur hanya dapat menatap penuh tanya kepada lubang dimensi yang berputar tiada henti itu.
“Sial!” Violin yang masih melayang di udara berupaya keras melawan arus yang mencoba menariknya ke dalam lubang merah kehitaman itu. “Lubang Jahanam.”
Seketika itu terdengar raungan keras yang mengerikan dari lubang Jahanam itu, beriring dengan munculnya pudaran-pudaran kabut hitam dari lubang itu dan berterbangan ke arah Violin yang melayang di udara. Seketika pudaran-pudaran hitam saling menyatu dan mewujud menjadi sosok menyerupai kerangka manusia busuk tanpa kerangka kaki, dan tubuhnya terselimuti kain hitam compang-camping. Iblis itu menjerit keras dan menjulurkan kedua tangannya yang panjang kepada Violin yang saat itu berpaling menghindar. Dan saat itulah Violin baru menyadari bahwa Iblis itu tidak mengincarnya, melainkan mengincar gadis yang masih menangis di atap gedung.
“Dhian!”
Violin segera terbang menyusul Iblis yang kian dekat dengan Dhian, dan sesaat sebelum Iblis itu menyentuh Dhian, sosok Violin muncul di hadapan Dhian dan mencekik leher Iblis busuk itu.
“Takkan kubiarkan kau menyentuh gadis suci ini.” Violin kian mengeratkan cekikannya hingga Iblis itu meraung-raung mencoba meloloskan diri. Di belakang Violin, Dhian menghentikan tangisnya dan terkejut menatap punggung Violin.
“Violin!”
“Tetaplah di belakangku!... yang kali ini akan merepotkan!” pinta Violin sambil menghempas menjauh sosok Iblis yang saat itu terkikis.
Saat itulah mampu ditatap Violin puluhan pudaran hitam yang saling bermunculan dari lubang Jahanam dan mewujud menjadi puluhan Iblis kerangka busuk yang berterbangan ke arah Violin dan Dhian dengan raungan-raungan mereka.
“Kurang ajar.” Umpat Violin sambil berpaling ke arah samurainya yang tertikam di belakangnya. Violin menjulurkan tangan kanannya ke arah samurai yang saat itu sirna dan muncul di genggaman tangan Violin.
Salah satu dari Iblis busuk itu meraung keras di hadapan Violin, namun Violin segera berpaling menatap Iblis itu dan menebasnya hingga melebur sirna. Violin melangkah mundur dengan menyeret tangan Dhian saat puluhan Iblis lain saling berdatangan menyerbu mereka. Saat itulah Dhian menjerit ketakutan dengan munculnya sesosok Iblis di sebelahnya, namun dengan segera Violin memeluk tubuh Dhian sambil menebas Iblis itu hingga melebur. Seketika itu puluhan Iblis lain saling berhamburan menyerbu Violin yang masih memeluk Dhian dengan erat.
“Aku akan melindungimu. Akan terus hingga akhir, Dhian.” Ucap Violin melepas pelukannya dan menghujam setiap Iblis yang datang mendekatinya. Setiap tebasannya dengan akurat menerjang para Iblis hingga meleburkan Iblis-Iblis yang dihujamnya.
Violin mencengkeram salah satu Iblis yang hendak menggapai Dhian dengan tangan kirinya, kemudian Violin membanting Iblis itu dan menikamnya hingga hancur melebur. Saat itulah beberapa Iblis mendekatinya dari atas, dan Violin segera mengibaskan samurainya ke atas hingga menebas serta meleburkan Iblis-Iblis itu. Namun kian lama, Iblis itu bermunculan kian banyak, hingga tebasan-tebasan Violin yang semula akurat kini mulai membabibuta. Violin mengibaskan samurainya hingga cahaya terbentang dan menerjang sosok-sosok Iblis di depannya. Dia segera berpaling ke belakang di mana beberapa Iblis berupaya menangkap Dhian.
“Merunduk!” pinta Violin kepada Dhian.
Dhian menurut, dan Violin segera menikam keras Iblis terdepan hingga membentangkan sebuah getaran dahsyat yang menghempas hancur sosok-sosok Iblis di belakang Iblis yang ditikam Violin. Violin mencabut tikamannya dan menebas hancur Iblis itu, kemudian Violin berpaling ke kanan dan dia mendapati sosok Iblis yang meraung dengan keras. Dia menebasnya, namun sebelum samurainya menebas Iblis itu, si Iblis melebur menjadi pudaran-pudaran hitam yang segera menerjang tubuh Violin. Violin menjerit keras saat wujud pudaran hitam itu menerjangnya, rasanya bagaikan disayat-sayat belati tajam tanpa bekas luka yang tertingal. Violin terjatuh merunduk, dan seketika itu puluhan Iblis lain di sekitarnya saling melebur menjadi pudaran-pudaran hitam dan berterbangan secara bertubi menerjang tubuh Violin dengan sadis. Violin merintih keras saat puluhan kabut hitam itu secara bertubi menerjang tubuhnya, dan dia berusaha berdiri dengan menahan ribuan terjangan itu, namun dia justru justru jatuh tersungkur oleh terjangan Iblis yang belum berakhir.
“Violin!” panggil Dhian khawatir. Namun saat itu sesosok Iblis mewujud di hadapan Dhian dan berusaha menerkamnya.
“Takkan kubiarkan!”
Menahan segala rasa pedih yang menghujam setiap senti dari tubuhnya, Violin bangkit dengan sebuah hentakkan, hingga cahaya semu terbentang dari tubuhnya dan menghempas setiap Iblis di sekitarnya.
Dalam sekejap cahaya Violin sirna, dan puluhan Iblis yang terhempas ke segala arah saling berterbangan kembali ke arahnya. Setiap Iblis itu saling melebur menjadi kabut-kabut hitam dan berusaha menerjang Violin, namun kali ini Violin dengan akurat menebas setiap wujud pudaran-pudaran hitam yang mencoba menerjangnya. Wujud-wujud pudaran hitam yang terhempas itu kembali mewujud menjadi Iblis-Iblis dan saling berterbangan ke arah Violin. Violin sudah berniat menebas wujud-wujud Iblis yang kian dekat itu, saat secara tiba-tiba dari dalam lubang Jahanam terjulur tangan hitam panjang bercakar tajam dan terselimuti api ke arah Dhian yang ada di sebelah Violin. Violin yang menyadarinya segera menebas sosok Iblis yang ada di hadapannya, dan segera beranjak ke hadapan Dhian yang menjerit ketakutan. Namun laju tangan itu gagal menyentuh Dhian. Violin telah menahan tangan panjang yang berselimut api itu, bukan dengan samurainya melainkan Violin membiarkan dada kanannya yang menahan cakar-cakar tajam dan berapi dari tangan Setan itu.
“Kau… baik?” tanya Violin dengan menahan sakitnya sambil memalingkan kepalanya ke arah Dhian yang terkejut setengah mati. Darah mulai dengan deras bercucuran dari celah tikaman cakar panas yang masih bersarang di dadanya. “Akkhh…” rintih Violin yang kini lekat menatap ke arah pangkal tangan mengerikan itu. Tak ada siapapun, atau apapun selain lubang Jahanam.
Saat itulah sesosok Iblis meraung dan berusaha menerjang Violin, dan hal itu memaksa Violin menahan rasa sakitnya, kemudian menebas tangan yang menghujam dadanya. Tangan itu melebur lenyap menjadi kobaran-kobaran api, dan Violin segera menikam dada Iblis yang mencoba menerjangnya hingga Iblis itu terkikis dan melebur. Hal itu memicu para Iblis lain untuk saling menerjang Violin, namun dengan sigap dan akurat Violin menebas setiap Iblis yang berusaha menerjangnya.
Tangan mengerikan berselimut api itu kembali terjulur dari lubang Jahanam dan tertuju tepat kepada Violin yang masih direpotkan oleh para Iblis. Dalam sedetik cakar dari tangan Setan itu telah mencengkeram dada kiri Violin begitu erat. Seketika semua serangan Violin terhenti untuk menjeritkan sakitnya akibat hujaman tangan berselimut api yang begitu panjang itu. Darah dari tubuh Violin kembali mengucur dengan deras, dan Violin yang merintih kesakitan segera terjatuh berlutut membiarkan cakar dari tangan Setan itu kian sadis mengoyak dadanya.
“Kurang ajar!” umpat Violin penuh amarah dan menyayat tangan panjang penuh api itu dengan samurainya, hingga tangan itu tersayat-sayat dan saling terbelah menyusuri tangan itu menuju pangkalnya. Violin yang terbebas dari cengkeraman itu segera menebas beberapa Iblis yang saling berterbangan ke arahnya.
“Berlindunglah tepat di balik punggungku, Dhian!... ini akan sangat menge—”
Ucapan Violin terpotong saat tangan Setan itu kembali terjulur dan mencengkeram pundak kirinya, diikuti dengan terjulurnya tangan berapi lain yang mencengkeram pundak kanannya. Violin menjerit keras namun tangan Setan lain kembali terjulur dan mencengkeram kaki kanannya. Jeritan Violin kian keras saat ketiga tangan Setan yang begitu panjang itu saling mengoyak daging dalam tubuhnya. Tak sampai di sana, seketika empat tangan Setan kembali terjulur dari dalam lubang Jahanam dan mencengkeram tangan kanan, tangan kiri, kaki kiri, dan terakhir dengan telak menghujam perut Violin. Darah seketika mengucur deras dari setiap cengkeraman tangan Setan itu. Bahkan Violin yang terus merintih pun memuntahkan darahnya. Di sekitarnya, para Iblis saling meraung-raung mengitarinya dan saling berterbangan menghujam raga Violin dalam wujud pudaran-pudaran hitam mereka tiada henti untuk kian menyiksa Malaikat itu. Saat itulah sebuah tangan Setan kembali terjulur dan mencengkeram leher Violin. “Akhhh….”
Violin tertahan lemas oleh tangan-tangan berapi yang mencengkeram sekujur tubuhnya. Dia tak lagi sanggup menjerit karena cekikan di lehernya yang semakin erat. Di belakangnya, tepat di balik punggungnya, Dhian menutup rapat-rapat kedua matanya. Airmatanya mengalir deras dan enggan menatap betapa Malaikat di depannya ini tersiksa.
“Ku-kurang…. Ajar…” umpat Violin dengan terbata dan dibebani oleh pedih yang menyayat-nyayat. Matanya menatap tajam ke arah lubang Jahanam yang terus berputar tiada henti. “L-Lou… Loukazt!” ucap Violin dan menundukkan kepalanya saat sebuah tangan Setan kembali muncul dan mencengkeram kepalanya.
Di sana, di antara bayang-bayang yang menempati rongga lubang Jahanam, sesosok berjubah hitam bertudung dan bertopeng perak berdiri dengan menjulurkan tangan kanannya ke arah Violin. Dialah Loukazt. Yang memiliki tangan-tangan Setan yang kini menyiksa Violin. Dialah Loukazt, salah satu tangan kanan Zheroich dulu. Dialah Loukazt, yang kini melangkah menembus lubang Jahanam dan terhenti di hadapan Zulletri yang masih meringkuk tak berdaya.
“Loukazt!” panggil Zulletri yang mencoba berdiri.
Loukazt menjulurkan lengan kirinya dan membantu Zulletri untuk berdiri. Tangan kanannya masih terjulur mengendalikan tangan-tangan Setannya.
“Kau berhasil, Firelia milik kita.” Ucap Loukazt. Seketika sebuah tangan Setan terjulur cepat dari dalam lubang Jahanam dan meraih raga Dhian yang ada di balik punggung Violin. Dhian yang terkejut segera membuka matanya dan menjerit ketakutan saat dia terseret cepat ke arah Loukazt.
“Dhian!” Violin berusaha memaksakan dirinya untuk mengejar Dhian, namun tangan-tangan Loukazt lebih berkuasa terhadap dirinya hingga Violin hanya mampu menjerit kesakitan bercampur kekesalannya.
Tubuh Dhian terjatuh di hadapan Loukazt dan sesaat Dhian menangis di hadapan para Iblis. Entah apa yang kini dia tangiskan, Adin yang terbunuh, Violin yang tersiksa, atau dirinya yang begitu tak berdaya. Dia meringkuk penuh derai airmata di hadapan kaki Sang Iblis.
“Mari pulang, Firelia!” ucap Loukazt sambil mengibaskan tangan kanannya hingga sebuah getaran dahsyat tercipta dan menerjang Violin yang langsung menjerit keras. Setiap tubuhnya kini tersayat-sayat oleh belati-belati tak terlihat, dan para Iblis semakin sadis menerjangkan tubuh mereka untuk menyiksa Malaikat penuh darah itu.
“Kuharap kau tidak mati, Violin!” ucap Loukazt sambil berpaling dan melangkah menuju lubang Neraka. Mengikutinya adalah Zulletri yang membawa tubuh Dhian.
Saat itulah lubang Jahanam kian membara dan terbakar oleh kobaran api yang luar biasa besar, dan pada akhirnya meledak begitu dahsyat. Api saling menyeruak ke berbagai penjuru, dan getaran dahsyat yang tercipta mampu meruntuhkan gedung-gedung tinggi di sekitarnya. Mampu menghempas pula tubuh Violin yang penuh luka begitu deras ke atas.
Tubuh Violin terhempas tak terkendali ke angkasa dan melambung ke arah kota yang penuh oleh gemerlap cahaya. Raganya terpelanting tak terkendali dari angkasa dan terjatuh tepat menuju jalan raya, dan dengan telak tubuh Violin menerjang sebuah truk besar yang seketika itu hancur dan terjungkal memotong jalan hingga menabrak hancur sebuah pos polisi yang kosong di tepi jalan. Tak membutuhkan waktu lama hingga api terpercik dan menimbulkan sebuah ledakan dahsyat yang menggelegar ke penjuru malam.

Rabu, 21 Maret 2012

chapter 1 Sayap-sayap dua warna

…..17 tahun yang lalu…..

Heningnya malam kini terusik oleh derap langkah seorang wanita berselimut kain putih yang membungkus sekujur tubuhnya. Dia berlari tergesa menyusup ladang jagung yang telah menguning, dia menatap ke arah langit berawan tipis yang tampak tenang oleh terang purnama, dan langkahnya terhenti, kemudian berpaling ke belakang di mana saling bermunculan kabut hitam yang membentuk sosok berbuntalkan jubah hitam yang melangkah menembus hitamnya kabut.
“Serahkan bayi Malaikat itu, Arhesiz! Serahkan Firelia padaku!” ucap sosok hitam itu dengan segenap keangkuhannya, membuat saat itu sosok yang sebelumnya berlari semakin mendekap erat sesosok bayi perempuan dalam gendongan tangannya.
“Tidak akan, wahai Zheroich!... takkan pernah kuserahkan bayi suci ini kepada Iblis biadab layaknya dirimu!” balas Arhesiz sambil mengambil langkah mundur.
“Dasar bodoh… kau hanya pelayan Malaikat yang tak berguna. Apa hakmu menghalangiku menjemput tuan kami yang ada pada dekapanmu itu?” balas Zheroich keras sambil menunjuk bayi bercahaya yang kini didekap oleh Arhesiz.
“Dia tak akan menjadi tuanmu atau pun tuan dari kaummu. Dia akan tetap suci dalam cahaya Malaikatnya, Firelia takkan pernah menjadi seperti apa yang kalian para Iblis harapkan,” sahut Arhesiz keras sambil berpaling, dan dengan tergesa berlari meninggalkan terdiamnya Zheroich.
“Maka matilah dirimu!” ucap Zheroich sambil mengibaskan jubah hitamnya hingga deru angin yang sedemikian kencang tercipta hingga saling menggoyahkan puluhan pohon jagung pada ladang itu.
Arhesiz terus berlari dan berusaha mengabaikan deru angin yang berhembus kian kencang, hingga saat dia mampu menembus ladang dan terhenti pada setapak kecil yang terhimpit oleh dua ladang jagung, saat itulah muncul secercah cahaya api yang segera membakar seisi ladang. Berkobar sedemikian dahsyat hingga malam itu sedemikian membara oleh curahan Jahanam yang membakar ladang.
“Sial!”
Arhesiz mulai menoleh ke berbagai penjuru di mana penuh oleh api yang menjilat-jilat sedemikian dahsyat dan hanya menyisakan celah pada sepanjang setapak tempat Arhesiz berdiri. Panas dari kobaran api dahsyat itu mulai membakar sekujur tubuh Arhesiz yang kini bercucuran keringat.
“Kau hanya akan mati bila terus berlari, Arhesiz!”
Seketika suara mengerikan itu terdengar menggema, berujung pada saling bergulirnya kobaran api jauh di hadapan Arhesiz yang pada akhirnya saling membentuk sosok Zheroich yang berselimut api.
“Cepat serahkan Malaikat kecil itu!... biarkan aku merubahnya menjadi penguasa Jahanam!” bentak Zheroich keras, berakhir dengan saling menjilatnya kobaran-kobaran api ke arah Arhesiz yang saat itu hanya dapat berpaling membiarkan punggungnya terkena cambukan-cambukan panas dari api yang saling menjilat.
“Sudah kubilang bahwa Firelia akan tetap suci, Zheroich! Jadi pulanglah engkau ke Jahanam!”
“BIADAB!” sergah Zheroich sambil menjulurkan lengan berapinya hingga saat itu menghempas raga Arhesiz sedemikian keras dan tersungkur di antara celah api. “Maka kubunuh kau!”
Seketika itu curahan Neraka yang membakar seisi tempat itu secara berbondong-bondong berputar dalam arus yang sedemikian besar mengelilingi Arhesiz. Saling berputar sedemikian cepat hingga mencipta sebuah tornado api yang menekankan suhu tingginya terhadap Arhesiz, mungkin mencoba memanggangnya dalam putaran tornado Neraka tersebut.
“Tidak…” ucap Arhesiz sebelum kini jatuh berlutut menahan tekanan Neraka tersebut, namun kian erat dia mendekap bayi Malaikat dalam dadanya yang saat itu mulai menangis tiada henti. “Tuhan!... tolonglah aku!... biarkan aku menyembunyikan Firelia, Dewi dalam dekapanku ini dari kuasa jahat Zheroich!” sambungnya dengan segenap nafas yang tersisa hingga di antara keputusasaannya itu, di antara tekanan Jahanam yang sedemikian tak memberdayakannya, seketika sebuah bentang cahaya Surga terpancar dari raga si bayi Malaikat, dan terpancar sedemikian benderang hingga menghempas sirna seisi curahan Neraka, menghempas pula sosok Zheroich beberapa rentang ke belakang meski sejenak dia mampu terhenti dan bertahan menerima bentang cahaya kemilau yang terpancar dari Firelia, Malaikat kecil tak bersayap itu.
“Kurang ajar!” umpat Zheroich di antara upayanya bertahan, menahan segenap curahan Surga yang mengalir deras melalui sang Malaikat kecil dalam dekapan Arhesiz.
“Lihatlah, Zheroich!... Firelia menolakmu. Dia akan tetap suci!”
Di antara bentang cahaya yang terpancar kian terang, pekik keras Arhesiz membahana, namun saat itu pula Zheroich membahanakan tawa setannya.
“Bersenanglah kau saat ini, Arhesiz! Tapi kuyakinkan bahwa Kesucian dari Dewimu itu takkan berlangsung lama! Sucinya akan vakum pada usianya yang ketujuh belas tahun… dan saat itulah akan kutanamkan benih-benih iblisku!” bentak Zheroich dalam sisa tenaganya yang tersisa, sebelum secara perlahan wujudnya mulai terkikis oleh cahaya. “Dan pada akhirnya dia akan tetap menjadi titisan Maharaja kami… Malaikatmu itu akan berubah menjadi Setan yang akan meniadakan jejak-jejak kebaikan!”
Seketika itu bentang cahayanya kian benderang, lebih benderang lagi hingga tempat itu sangat jauh dari nuansa malam, dan saat bentang cahayanya kian terang, maka sirnalah sosok Zheroich dalam terjangan curahan Surga itu. Menyisakan kini di antara cahaya yang mulai sirna sosok Arhesiz yang terjatuh lemas mendekap erat bayi Malaikat bercahayanya itu.
***

“Zheroich telah mengucapkan kutukannya,… apa itu berarti kita harus membunuh Firelia?”
Di antara bentang cahaya syahdu yang menghiasi seisi puri-puri indah itu, sebuah suara yang nampak berasal dari sosok bercahaya terang terlantun dan menggema sedemikian indahnya.
“Yang kutakutkan bahwa kutukan itu benar-benar terjadi… dan yang lebih kutakutkan bila kutukan itu terjadi tanpa kita cegah!” sahut sosok bercahaya lain yang dengan bersahaja melangkah di antara bentang cahaya syahdu itu.
“Jadi benar, kita harus membunuhnya saat ini?”
“Tidak… saat ini jiwa suci Malaikatnya tak memungkinkan kita untuk membunuhnya. Selama cahaya Malaikatnya masih ada dalam dirinya, kita tak bisa membunuhnya,” sahut sosok bercahaya yang tiada henti melangkah perlahan menyusuri puri cahaya itu.
“Lalu kita akan membiarkannya menjadi Penguasa Jahanam?” tanya sosok bercahaya lain.
“Tidak,” balas Sang bercahaya yang sedari tadi melangkah dan kini terhenti. “Pada usia ketujuhbelasnya, saat itulah terjadi kevakuman suci dari jiwanya. Dan saat itu pula para kaum Neraka akan berupaya menguasai kevakuman itu. Saat itulah kita mempunyai kesempatan… kesempatan untuk membunuhnya.”
****

chapter 1 Sayap-sayap dua warna

…..17 tahun yang lalu…..

Heningnya malam kini terusik oleh derap langkah seorang wanita berselimut kain putih yang membungkus sekujur tubuhnya. Dia berlari tergesa menyusup ladang jagung yang telah menguning, dia menatap ke arah langit berawan tipis yang tampak tenang oleh terang purnama, dan langkahnya terhenti, kemudian berpaling ke belakang di mana saling bermunculan kabut hitam yang membentuk sosok berbuntalkan jubah hitam yang melangkah menembus hitamnya kabut.
“Serahkan bayi Malaikat itu, Arhesiz! Serahkan Firelia padaku!” ucap sosok hitam itu dengan segenap keangkuhannya, membuat saat itu sosok yang sebelumnya berlari semakin mendekap erat sesosok bayi perempuan dalam gendongan tangannya.
“Tidak akan, wahai Zheroich!... takkan pernah kuserahkan bayi suci ini kepada Iblis biadab layaknya dirimu!” balas Arhesiz sambil mengambil langkah mundur.
“Dasar bodoh… kau hanya pelayan Malaikat yang tak berguna. Apa hakmu menghalangiku menjemput tuan kami yang ada pada dekapanmu itu?” balas Zheroich keras sambil menunjuk bayi bercahaya yang kini didekap oleh Arhesiz.
“Dia tak akan menjadi tuanmu atau pun tuan dari kaummu. Dia akan tetap suci dalam cahaya Malaikatnya, Firelia takkan pernah menjadi seperti apa yang kalian para Iblis harapkan,” sahut Arhesiz keras sambil berpaling, dan dengan tergesa berlari meninggalkan terdiamnya Zheroich.
“Maka matilah dirimu!” ucap Zheroich sambil mengibaskan jubah hitamnya hingga deru angin yang sedemikian kencang tercipta hingga saling menggoyahkan puluhan pohon jagung pada ladang itu.
Arhesiz terus berlari dan berusaha mengabaikan deru angin yang berhembus kian kencang, hingga saat dia mampu menembus ladang dan terhenti pada setapak kecil yang terhimpit oleh dua ladang jagung, saat itulah muncul secercah cahaya api yang segera membakar seisi ladang. Berkobar sedemikian dahsyat hingga malam itu sedemikian membara oleh curahan Jahanam yang membakar ladang.
“Sial!”
Arhesiz mulai menoleh ke berbagai penjuru di mana penuh oleh api yang menjilat-jilat sedemikian dahsyat dan hanya menyisakan celah pada sepanjang setapak tempat Arhesiz berdiri. Panas dari kobaran api dahsyat itu mulai membakar sekujur tubuh Arhesiz yang kini bercucuran keringat.
“Kau hanya akan mati bila terus berlari, Arhesiz!”
Seketika suara mengerikan itu terdengar menggema, berujung pada saling bergulirnya kobaran api jauh di hadapan Arhesiz yang pada akhirnya saling membentuk sosok Zheroich yang berselimut api.
“Cepat serahkan Malaikat kecil itu!... biarkan aku merubahnya menjadi penguasa Jahanam!” bentak Zheroich keras, berakhir dengan saling menjilatnya kobaran-kobaran api ke arah Arhesiz yang saat itu hanya dapat berpaling membiarkan punggungnya terkena cambukan-cambukan panas dari api yang saling menjilat.
“Sudah kubilang bahwa Firelia akan tetap suci, Zheroich! Jadi pulanglah engkau ke Jahanam!”
“BIADAB!” sergah Zheroich sambil menjulurkan lengan berapinya hingga saat itu menghempas raga Arhesiz sedemikian keras dan tersungkur di antara celah api. “Maka kubunuh kau!”
Seketika itu curahan Neraka yang membakar seisi tempat itu secara berbondong-bondong berputar dalam arus yang sedemikian besar mengelilingi Arhesiz. Saling berputar sedemikian cepat hingga mencipta sebuah tornado api yang menekankan suhu tingginya terhadap Arhesiz, mungkin mencoba memanggangnya dalam putaran tornado Neraka tersebut.
“Tidak…” ucap Arhesiz sebelum kini jatuh berlutut menahan tekanan Neraka tersebut, namun kian erat dia mendekap bayi Malaikat dalam dadanya yang saat itu mulai menangis tiada henti. “Tuhan!... tolonglah aku!... biarkan aku menyembunyikan Firelia, Dewi dalam dekapanku ini dari kuasa jahat Zheroich!” sambungnya dengan segenap nafas yang tersisa hingga di antara keputusasaannya itu, di antara tekanan Jahanam yang sedemikian tak memberdayakannya, seketika sebuah bentang cahaya Surga terpancar dari raga si bayi Malaikat, dan terpancar sedemikian benderang hingga menghempas sirna seisi curahan Neraka, menghempas pula sosok Zheroich beberapa rentang ke belakang meski sejenak dia mampu terhenti dan bertahan menerima bentang cahaya kemilau yang terpancar dari Firelia, Malaikat kecil tak bersayap itu.
“Kurang ajar!” umpat Zheroich di antara upayanya bertahan, menahan segenap curahan Surga yang mengalir deras melalui sang Malaikat kecil dalam dekapan Arhesiz.
“Lihatlah, Zheroich!... Firelia menolakmu. Dia akan tetap suci!”
Di antara bentang cahaya yang terpancar kian terang, pekik keras Arhesiz membahana, namun saat itu pula Zheroich membahanakan tawa setannya.
“Bersenanglah kau saat ini, Arhesiz! Tapi kuyakinkan bahwa Kesucian dari Dewimu itu takkan berlangsung lama! Sucinya akan vakum pada usianya yang ketujuh belas tahun… dan saat itulah akan kutanamkan benih-benih iblisku!” bentak Zheroich dalam sisa tenaganya yang tersisa, sebelum secara perlahan wujudnya mulai terkikis oleh cahaya. “Dan pada akhirnya dia akan tetap menjadi titisan Maharaja kami… Malaikatmu itu akan berubah menjadi Setan yang akan meniadakan jejak-jejak kebaikan!”
Seketika itu bentang cahayanya kian benderang, lebih benderang lagi hingga tempat itu sangat jauh dari nuansa malam, dan saat bentang cahayanya kian terang, maka sirnalah sosok Zheroich dalam terjangan curahan Surga itu. Menyisakan kini di antara cahaya yang mulai sirna sosok Arhesiz yang terjatuh lemas mendekap erat bayi Malaikat bercahayanya itu.
***

“Zheroich telah mengucapkan kutukannya,… apa itu berarti kita harus membunuh Firelia?”
Di antara bentang cahaya syahdu yang menghiasi seisi puri-puri indah itu, sebuah suara yang nampak berasal dari sosok bercahaya terang terlantun dan menggema sedemikian indahnya.
“Yang kutakutkan bahwa kutukan itu benar-benar terjadi… dan yang lebih kutakutkan bila kutukan itu terjadi tanpa kita cegah!” sahut sosok bercahaya lain yang dengan bersahaja melangkah di antara bentang cahaya syahdu itu.
“Jadi benar, kita harus membunuhnya saat ini?”
“Tidak… saat ini jiwa suci Malaikatnya tak memungkinkan kita untuk membunuhnya. Selama cahaya Malaikatnya masih ada dalam dirinya, kita tak bisa membunuhnya,” sahut sosok bercahaya yang tiada henti melangkah perlahan menyusuri puri cahaya itu.
“Lalu kita akan membiarkannya menjadi Penguasa Jahanam?” tanya sosok bercahaya lain.
“Tidak,” balas Sang bercahaya yang sedari tadi melangkah dan kini terhenti. “Pada usia ketujuhbelasnya, saat itulah terjadi kevakuman suci dari jiwanya. Dan saat itu pula para kaum Neraka akan berupaya menguasai kevakuman itu. Saat itulah kita mempunyai kesempatan… kesempatan untuk membunuhnya.”
****

Bagian akhir Sayap-sayap Dua Warna

Goresan Kelimabelas

(Aku datang… di mana kau? )


Dunia dengan waktu yang tak diketahui

Tubuh Violin terjatuh ke suatu tempat mungkin angkasa yang dipenuhi oleh semburan-semburan api. Dia terus membiarkan tubuhnya terjatuh menembus kobaran-kobaran api yang entah mengapa sama sekali tak membakarnya. Kobaran-kobaran api itu saling bergulung begitu membara dan menerjang tubuh Violin yang terus terjatuh ke bawah.
“Di mana kau?... di mana kau?”
Pada akhirnya kobaran-kobaran api yang saling bergulung di sekitar Violin berubah menjadi gumpalan awan hitam pekat yang saling bergemuruh. Violin terus membiarkan dirinya terjatuh deras menyusuri gumpalan awan menuju daratan di bawah sana.
Dengan begitu keras halilintar berwarna merah menyambar dari kelabu awan, dan selang beberapa jeda, tubuh Violin telah terbebas dari awan dan terus terjatuh dengan cepat dari angkasa menuju daratan karang terjal dan membara di bawah sana. Kedua sayapnya tampak lemas dan melambai deras karena tabrakan dengan udara di langit suram itu.
“Aku datang,”
Violin memejamkan matanya dan terus membiarkan tubuhnya terjatuh deras menembus udara menuju daratan suram jauh di bawah sana.
“Di mana kau, Firelia?... di mana kau, Dhian?”
Violin membuka kedua matanya dan dalam terjun bebasnya itu dia mulai melambaikan kedua sayapnya, dan sedetik kemudian Violin membentangkan kedua sayapnya hingga tubuhnya terhenti di udara seiring dengan munculnya sebuah getaran dahsyat yang membentang dan menggemparkan penjuru tempat itu hingga tanah, udara, dan langit saling terguncang begitu dahsyat.
Seketika itu para Iblis yang tadinya terus menyerukan kehadiran Dhian, kini saling menatap langit saat merasakan getaran energi yang begitu kuat itu. Begitu pula Zulletri, Loukazt, dan Dhian yang masih berusaha mendaki tangga batu menuju sebuah puncak karang. Mereka saling menatap ke langit mencoba menyadari hal apa yang sedang terjadi.
Sementara itu di langit sana, Violin yang masih terhenti di udara dengan kedua sayapnya yang terbentang kembali mencuptakan sebuah hentakan energi yang kembali mampu mengguncangkan penjuru tempat suram itu, bahkan saking kuatnya tekanan dari guncangan tersebut beberapa tebing karang runtuh dan menimpa para Iblis yang menjerit ketakutan.
“Di mana kau, Dhian?”
Violin menatap lekat-lekat ke penjuru karang hitam mencoba mencari keberadaan Dhian, hingga akhirnya matanya berpusat pada satu titik yang berada jauh di ujung matanya.
“Aku datang!”
Dengan sekali kibasan sayap, Violin meluncur deras menuju tempat yang diyakiniya Dhian berada. Dia berteriak begitu keras di antara laju terbangnya hingga semua mata para Iblis kini tertuju kepadanya yang hanya terlihat bagaikan setitik warna hitam dari dasar karang.
“Dia?”
“Violin!” ucap Dhian yang secara samar menatap ke arah titik hitam yang kian mendekati kediamannya.
“Matilah dalam ketakutan kalian, Wahai Iblis!” teriak Violin lantang sambil mengibaskan samurainya ke arah daratan karang di bawahnya, dan sejurus kemudian tercipta suatu ledakan garis cahaya yang menjulur dan membelah daratan karang yang ada jauh di bawah Violin.
Jeritan ketakutan seketika itu pecah dan seluruh Iblis mulai berlarian saat ledakan garis cahaya itu mempu memporak-porandakan wilayah mereka. Sementara itu Zulletri yang menatapnya hanya mampu terdiam penuh tanya.
“Apa yang dia lakukan?” tanya Zulletri. Dia sudah berniat terbang ke arah Violin, namun Loukazt menahannya.
Violin yang terus melaju ke arah Dhian kembali berteriak dan mengibaskan samurainya hingga ledakan cahaya yang menggaris itu kembali tercipta pada daratan karang, hingga meruntuhkan tebing-tebing karang dan meninggalkan jejak parit yang dalam dan begitu panjang.
“Bagaimana dia melakukan itu? Bagaimana dia melanggar pembatasnya?” tanya Zulletri yang masih terdiam menatap apa yang kini dilakukan oleh Violin.
Saat itulah beberapa Iblis yang berwujud menyerupai pria dewasa bersayap terbang meluncur menuju Violin dengan pedang mereka. Mereka datang dari berbagai arah berusaha mengepung Violin yang tak sedikitpun acuh terhadap mereka.
“Pulanglah, Wahai Malaikat!” seru salah satu Iblis yang ada di hadapan Violin berusaha menghadangnya.
“Sayang sekali aku bukan Malaikat!” teriak Violin sambil menebas pedang dari Iblis yang terayun kepadanya. Seketika pedang Iblis itu hancur berkeping-keping, dan Violin segera menikam leher Sang Iblis, kemudian memenggal kepalanya.
Beberapa Iblis lain berdatangan dari arah yang berbeda mencoba menyusul Violin yang terus melaju ke arah Dhian. Violin yang sadar oleh kehadiran beberapa Iblis itu segera terhenti dan berpaling menatap para Iblis yang melancarkan tebasan mereka. Dalam sekali kibasan sayap, Violin mampu menghempas menjauh sosok-sosok Iblis tersebut. Dia segera terbang melesat menuju salah satu Iblis yang terhempas, dan dalam sekejap Violin telah ada di hadapan Iblis itu dengan sebuah tebasan yang memenggal pergelangan tangan sang Iblis yang menggenggam pedang. Sang Iblis merintih namun Violin segera menyayatkan sebuah tebasan pada Iblis itu hingga menghempas Iblis ke belakang dengan jeritannya. Violin yang telah mendapatkan nafsu membunuh lebih kuat, segera mengejar Iblis yang terhempas itu beserta berbagai sayatan yang dia hujamkan. Iblis yang tersayat tiada henti itu menjerit keras di antara tawa kejam Violin. Darah saling terciprat ke segela arah setiap kali samurai Violin menyayat Iblis.
Saat itulah Iblis lain yang tadinya terhempas, kini saling berterbangan dan mengepung Violin berusaha menyerangnya. Violin menebas Iblis yang dari tadi disiksanya hingga tubuh Iblis itu terbelah, dan dia segera menebas sosok Iblis yang ada di kanannya, lalu berpaling ke kiri di mana salah satu Iblis mengibaskan pedang ke arahnya. Violin segera menebas hancur pedang itu dan melancarkan sebuah tendangan yang menghempas sang Iblis. Violin berpaling ke belakang dan menebas kepala Iblis yang hendak menyerangnya hingga darah kembali terciprat dari samurai Violin, kemudian dia kembali berpaling menghadap sosok Iblis yang berusaha menebasnya, namun dengan mudah Violin menangkap bilah pedang yang terayun kepadanya dengan jemari tangan kirinya. Iblis itu terperangah dan saat itulah Violin menghujamkan tebasan pada ketiak kanan Iblis itu hingga memenggal tangannya. Seketika Iblis itu menjerit kesakitan namun Violin segera mencekik lehernya dan menghujamkan tikaman pada kepala Iblis yang meronta-ronta kesakitan di antara tawa lantang Violin. Violin mencabut tikamannya dan memenggal Iblis itu dan segera berpaling ke arah dua Iblis yang tersisa di hadapannya. Kedua Iblis itu berusaha menyerang Violin secara bersamaan namun Violin dengan cepat terbang melewati kedua Iblis itu dan sudah berada tepat di balik punggung salah satu Iblis. Dia menghujamkan tikaman ke kepala Iblis yang langsung menjerit kesakitan. Violin memperdalam tikamannya hingga bilah pedangnya mampu mengiris-iris otak Iblis yang terus meronta-ronta itu.
“Kurang ajar!” teriak Iblis yang ada di sebelah Violin sambil berusaha menebas Violin.
Violin mengibaskan samurainya yang masih menikam kepala Iblis ke atas, hingga samurainya merobek kepala itu, lalu Violin terbang ke belakang menghindari tebasan. Sedetik setelah tebasan itu gagal menghujamnya, Violin segera terbang ke arah Iblis itu dengan sebuah tikaman yang mampu menembus leher Iblis yang seketika menjerit kesakitan.
“Beberapa waktu lalu, kalian menjanjikan Kiamat bagi Bumi.” Violin memperdalam tikamannya hingga Iblis itu meronta-ronta di antara darah yang mengucur deras dari celah tikamannya. “Tapi saat ini aku datang kepada kalian. Dan menjanjikan Kiamat bagi kalian!” dengan nafsu membunuhnya yang semakin kuat, Violin mengibaskan samurainya yang masih menikam Iblis ke bawah, hingga tubuh Iblis itu terbelah menjadi dua.
Saat itulah Violin dikejutkan dengan teriakan penuh amarah dari sesosok Iblis yang terbang menuju Violin membawa sebuah pedang.
“Kau marah?... lalu apa kau pikir saat ini aku tidak marah?” dalam sekali kibasan sayap, Violin meluncur deras ke arah Iblis itu, hingga sekejap Violin telah mencekik leher Iblis itu dan membawanya terbang begitu cepat menuju Dhian. “Kemarahan kalian itu tak berarti apapun bagiku. Kemarahanku atas perbuatan kalian lebih besar dari segalanya.”
Violin menghunus ujung samurainya tepat ke mata Iblis itu, dan dengan kejam Violin menghujamkan samurainya pada mata sang Iblis hingga Iblis itu meronta-ronta kesakitan di antara tikaman Violin yang semakin dalam dan sadis. Violin melepas cekikannya lalu mengibaskan samurainya hingga sosok Iblis yang masih ditikamnya itu terhempas menyingkir bersimbah darah, kemudian Violin melanjutkan terbangnya menuju Dhian.
Seketika dari arah Dhian yang masih jauh dari laju Violin saling bermunculan wujud pudaran-pudaran hitam yang berterbangan ke arahnya, dan secara cepat wujud pudaran-pudaran hitam itu saling menyatu hingga mewujud menjadi puluhan Iblis kerangka busuk yang saling meraung meneriakkan ancaman mereka.
“Aku tak punya waktu untuk kalian!” teriak Violin sambil menebas hancur para Iblis yang berdatangan kepadanya. Lajunya sama sekali tak terhambat oleh puluhan Iblis yang mengepungnya itu. Dalam lajunya yang kian cepat, Violin terus menebas hancur wujud-wujud Iblis itu hingga kini benar-benar hilang.
“Dia bukan lagi Malaikat. Dia telah mengisikan Kenistaan pada dirinya hingga berubah menjadi makhluk itu,” ucap Loukazt sambil mencengkeram bahu Zulletri hingga Zulletri berpaling menatapnya.
Saat itu saling berdatangan beberapa Iblis yang menyerupai pria dewasa dengan sayap serta pedang mereka untuk mengitari Dhian, Loukazt, dan Zulletri.
“Kami akan melindungi kalian,” ucap salah satu dari para Iblis.
Loukazt segera menarik tubuh Zulletri mendekatinya dan melingkupkan jubah hitamnya kepada Zulletri, hingga tubuh kedua Iblis itu hilang menjadi kabut hitam, menyisakan kini hanya ada Dhian seorang yang dikelilingi Iblis penjaganya menantikan hadirnya Violin.
“Violin!” panggil Dhian lirih saat wujud Violin kian jelas terlihat olehnya.
Dua di antara Iblis yang menjaga Dhian membentangkan sayap mereka dan dengan begitu cepat keduanya terbang ke arah Violin yang berteriak penuh kebencian.
Violin menatap kedua Iblis yang datang mendekat itu baik-baik, dan kini tatapannya berpusat pada satu di antara keduanya. Dalam sekali kibasan sayap, Violin terbang melesat ke arah satu di antara kedua Iblis itu lalu menikam perut Iblis itu begitu dalam. Tanpa membuang waktu, Violin membawa Iblis dalam tikamannya itu menjauh, dan dalam lajunya Violin mencabut tikamannya kemudian kembali menikam Iblis itu, kali ini di dadanya. Iblis itu menjerit kesakitan namun Violin kembali mencabut tikamannya dan berulang kali menghujamkan tikaman samurainya ke sekujur tubuh Iblis yang terus dibawanya itu. Violin tertawa penuh kemenangan di antara jeritan-jeritan pilu sosok Iblis yang secara bertubi ditikamnya, hingga darah saling mengucur deras dari setiap hujaman kejam Violin.
“Lepaskan dia!”
Violin yang mendengar teriakan itu segera menikam dalam-dalam dada Iblis itu, mencekik erat lehernya dan mencabut tikamannya. Violin mengeratkan cekikannya hingga nafas dari Iblis yang sekarat itu tersendat, kemudian Violin mengiris rahang Iblis hingga si Iblis meronta kesakitan.
“Kurang ajar!”
Violin berpaling ke belakang dan mendapati Iblis yang datang kepadanya penuh amarah. Violin menyambut hadirnya Iblis itu dengan tawa kerasnya lalu dalam sekali kibasan samurai, tubuh Iblis itu tersayat dan mengucurkan darah yang begitu deras. Iblis itu meronta kesakitan, namun Violin segera menikam mata kiri Iblis itu hingga bilah samurainya menembus kepala sang Iblis.
Melihat hal itu, empat Iblis di antara Iblis-Iblis yang melindung Dhian segera terbang menuju Violin dan mereka terhenti beberapa rentang dari Violin yang menatap mereka dengan tatapan sombongnya. Violin menghunus samurainya yang masih menikam kepala Iblis ke arah empat Iblis di hadapannya yang saat itu menjulurkan tangan mereka dan menciptakan diagram Iblis yang seketika itu mengobarkan api yang begitu membara ke arah Violin.
“Cih!”
Violin mengibaskan samurainya hingga menghempas Iblis yang semula ditikamnya ke dalam api yang berokobar ke arahnya, dan dalam sebuah kibasan samurai, kobaran api yang terus berkobar menujunya itu saling terhempas ke segala arah beriring dengan pecahnya keempat diagram Iblis.
“Menangislah!” ucap Violin pelan. Dalam sekejap dia melesat ke arah salah satu Iblis dan menikam dadanya begitu dalam hingga Iblis itu merintih kesakitan. “Atau maaf! Tak kuizinkan kalian menangis!”
Saat itulah ketiga Iblis lain saling berteriak keras berupaya menyerang Violin yang mencabut tikamannya dan memenggal kepala Iblis itu. Violin berpaling ke arah ketiga Iblis serta menahan sebuah tebasan dengan samurainya, kemudian Violin menendang Iblis itu hingga terpelanting menjauh, dan saat itulah kedua Iblis lain mencoba menyerangnya dari depan dan belakang. Violin merundukkan tubuhnya sambil menebas perut Iblis di hadapannya, kemudian dia berbalik menatap Iblis di belakangnya dengan sebuah tikaman bertubi yang dia lancarkan hingga Iblis itu menjeritkan pedihnya. Violin berpaling ke arah Iblis yang ditebasnya tadi dan mengakhiri hidup Iblis itu dengan menebas kepala sang Iblis. Saat itulah Iblis yang tadi ditendangnya kembali dengan cepat menuju Violin, namun dengan segera Violin menikam leher Iblis itu hingga serangan sang Iblis gagal. Violin mengoyak leher sang Iblis dan mencabut tikamannya, kemudian mengibaskan samurainya beberapa kali hingga tubuh Iblis itu saling tercabik-cabik bahkan termutilasi.
Violin berpaling ke arah tangga batu jauh di hadapannya di mana di sana mampu dia tatap sosok Dhian yang dikelilingi oleh beberapa Iblis.
“Aku menjemputmu!”
Violin mengibaskan kedua sayapnya hingga dia terbang melesat ke arah Dhian yang saat itu hanya terdiam.
“Takkan kubiarkan,” ucap salah satu Iblis dan dengan cepat terbang ke arah Violin mencoba menghadang laju sosok yang bukan lagi Malaikat itu.
Dalam beberapa kali kibasan samurai yang menghujam Iblis itu, Violin mampu memutilasi sosok Iblis di hadapannya hingga organ-organ tubuh sang Iblis tercerai-berai dengan darahnya yang mengalir deras. Violin terbang begitu cepat menuju anak tangga jauh di bawah Dhian di mana di sana berdiri sesosok Iblis yang segera diterjangnya dan secara kejam mengiris-iris leher sang Iblis.
Violin bangkit, kemudian melangkah mendaki tangga batu ke arah Dhian, dan saat itulah sesosok Iblis dengan kapak di tangannya berlari menghampiri Violin berusaha menebasnya. Violin dengan segera menangkap pergelangan tangan kanan dari Iblis yang memegang kapak itu dengan tangan kirinya, hingga tebasan itu gagal menerjangnya. Violin menikamkan samurainya begitu dalam pada ketiak kanan Iblis itu hingga erangan kesakitan terdengar beriring dengan darah yang mengucur dari celah tikaman Violin. Violin memutar samurainya hingga kapak pada tangan kanan sang Iblis mampu direbut Violin dengan tangan kirinya dan Violin segera melemparkan kapak itu ke arah sosok Iblis yang mendekatinya hingga dengan telak mata kapak itu menerjang kepala Iblis yang mendekatinya itu hingga jatuh dan tersungkur di hadapan Violin. Violin mencabut tikaman samurainya, dan mencekik erat leher Iblis yang tadi ditikamnya, kemudian Violin menikam kepala Iblis itu. Iblis itu mengerang kesakitan lalu Violin segera mengiris-iris kepala sang Iblis sebelum kemudian Iblis itu jatuh tersungkur.
“Kurang ajar!”
Sosok Iblis lain berlari menuruni tangga mencoba menyerang Violin, namun Violin lebih cepat darinya. Dengan segera Violin menikam begitu dalam perut Iblis itu. Saat itulah Violin menyadari munculnya sosok Iblis yang melompat ke arahnya dari sisi kiri tangga batu. Violin mencabut tikamannya kemudian menebas tangan kanan Iblis yang tadi ditikamnya hingga pedang sang Iblis dengan mudah direbut Violin dan segera dilemparnya ke arah Iblis yang melompat menujunya hingga dengan telak pedang itu menikam jantung sang Iblis. Violin menebas kepala Iblis yang ada di hadapannya hingga jasad Iblis itu jatuh tersungkur, kemudian Violin merunduk untuk mencabut kapak pada kepala salah satu Iblis. Satu lagi Iblis berlari menuruni tangga menuju Violin yang saat itu melemparkan kapaknya hingga menghujam kaki Iblis yang berlari ke arahnya. Iblis itu mengerang dan terjatuh ke arah Violin yang segera menikam dagu sang Iblis hingga samurainya menembus ubun-ubun Iblis itu. Violin mencabut kapak pada kaki Iblis itu, dan segera menyadari adanya serangan dari belakang. Violin berpaling ke balakang ke arah dua Iblis yang mendaki tangga ke arahnya, namun dengan mudah Violin menebas dada salah satu Iblis dengan kapak di tangan kirinya, kemudian dengan samurainya, Violin menikam dada kanan Iblis yang satunya lagi. Iblis itu mengerang kesakitan dan meronta-ronta saat Violin memperdalam tikamannya.
“Merengeklah, Wahai Iblis!” ucap Violin sambil mengangkat samurainya yang masih menikam dada Iblis, hingga Iblis yang masih meronta-ronta itu terangkat ke udara.
Violin berpaling ke atas dan merentangkan samurainya yang masih menikam Iblis ke samping. Dengan perlahan Violin melangkah mendaki tangga ke arah Dhian yang hanya terjaga dua sosok Iblis. Di samurainya Iblis yang tertikam itu terus merintih dan mencoba meloloskan diri.
“Bawa Firelia menjauh!... aku akan menghadang makhluk ini,” ucap salah satu Iblis kepada Iblis lain yang ada di belakang Dhian.
Iblis yang diperintah itu sudah berniat menangkap Dhian, namun saat itulah kapak di tangan kiri Violin melayang dan menerjang kepala Iblis itu. Seketika satu Iblis yang tersisa selain yang ditikam Violin terkejut dan mencoba berlari ke arah Dhian, namun Violin segera mengibaskan samurainya hingga Iblis pada samurainya itu terhempas dan menabrak Iblis yang berlari ke arah Dhian. Violin kembali mengibaskan samurainya hingga segaris cahaya meluncur menyusuri tangga batu lalu menerjang kedua Iblis yang tersisa itu. Kini tersisalah Dhian seorang.
Violin mendaki dua-tiga kali anak tangga dan terhenti sekitar limabelas anak tangga di bawah Dhian. “Aku datang, Dhian,” ucap Violin sambil menjulurkan tangan kirinya kepada Dhian.
“Violin!” panggil Dhian dan dengan tergesa berlari menyusuri tangga ke arah Violin yang menyambutnya dengan tersenyum. Dhian terhenti di hadapan Violin dengan jarak dua anak tangga.
“Kau baik, Dhian?” Violin menepuk perlahan bahu kanan Dhian yang saat itu tersenyum dan mengangguk. “Lalu katakan padaku bahwa mereka belum mengubahmu menjadi Ratu mereka!” sambung Violin.
“Belum. Mereka sama sekali belum menyentuhku. Aku belum menjadi Ratu mereka, Violin,” balas Dhian dan saat itu terjatuh berlutut. “Karena itu cepat akhiri ini!... cepat bunuh aku!” pinta Dhian.
“Hey! Kejam sekali kau?” balas Violin. “Kau pikir aku repot-repot datang kemari hanya untuk membunuhmu?” sambungnya menyeringai.
“Lalu?”
“Aku punya pilihan lain selain membunuhmu, Dhian. Aku takkan berniat membunuhmu. Lagi.” Violin berpaling ke belakang dan menghela nafas yang cukup panjang.
“Violin?” panggil Dhian.
“Aku akan langsung membawamu ke Surga,” kata Violin sambil berpaling menatap Dhian dengan senyumnya. “Mari! Kuhantar kau ke Surga!” sambungnya dan menjulurkan tangan kirinya ke arah Dhian yang saat itu masih berlutut.
Perlahan Dhian berdiri dan menatap Violin yang tersenyum semakin lebar, kemudian Violin menjabat tangan kanan Dhian dengan jemari tangan kirinya. Menggenggamnya erat seolah enggan kehilangan gadis ini lagi.
Aku akan merindukanmu, Dhian. Akan sangat merindukanmu setelah ini. Violin memejamkan kedua matanya untuk merekam baik-baik memori ini. Karena setelah ini tak ada lagi kesempatan yang dapat membuatnya merasakan peristiwa ini lagi. Karena setelah ini Violin takkan lagi bisa bertemu dengan gadis di depannya itu.
“Hey!... kau kenapa?” Dhian yang tedinya menatap perkaitan tangannya dengan tangan Violin kini menatap wajah Violin yang begitu tenang. “Violin!” panggil Dhian lagi.
“Abaikan!” Violin membuka matanya dan menatap Dhian dalam damai.
Namun Dhian yang tadinya membalas tatapan Violin dengan tatapan ketidakmengertiannya, kini mengalihkan matanya dan menatap penuh keterkejutan kepada sesuatu yang begitu jauh di hadapannya.
“Violin! Sepertinya mereka takkan melepas kita begitu saja,”
Violin kembali berpaling ke belakang dan segera dikejutkan oleh apa yang dia tatap jauh di hadapannya. Terdapat ribuan nyala api dari obor-obor di tangan balatentara Iblis yang saling meraung-raung berlarian dan berterbangan ke arah mereka. Violin menelan ludahnya dengan kasar dan saat itulah angin kelam berhembus kencang menerpa mereka.
“Dhian! Maukah kau terbang bersamaku? Sekarang?” Violin tak menunggu jawaban dari Dhian dan langsung memeluk gadis itu erat, kemudian mengibaskan kedua sayapnya hingga mereka berdua terbang melesat meninggalkan tangga batu.
Saat itulah ribuan nyala api dari para Iblis yang berusaha mengejar Violin saling menyemburkan kobaran-kobaran api mereka hingga api saling bergulung menuju Violin dari segala penjuru.
“Sepertinya ini buruk, Vio—“
“Tutup matamu bila kau takut!” potong Violin sambil mengibaskan samurainya hingga api yang nyaris menerjangnya terbelah ke segela arah.
“Tak perlu kau suruh,” balas Dhian sambil menutup rapat kedua matanya.
Violin mengibaskan kedua sayapnya hingga membuatnya melesat meninggalkan api yang terhempas, namun saat itulah seluruh kobaran api yang dihempas Violin saling berterbangan menuju Violin yang terus melesat ke atas. Sejurus kemudian seluruh kobaran api saling bergulir dan membentuk sosok ular naga api yang meraung begitu keras dan terbang meliuk menuju Violin.
“Sial!” Violin berpaling ke kanan menghindari semburan api dari sosok ular naga api di bawahnya.
Dalam sekejap wujud ular api itu telah berada di sebelah Violin dan meliuk mengelilingi Violin yang saat itu menghentikan lajunya. Ular api itu meraung keras dan berusaha menerkam Violin, namun dengan segera Violin menebas dagu ular api hingga si ular api menjerit keras dan mengibaskan kepalanya ke atas. Mendapat kesempatan itu, Violin segera terbang menjauh dari tubuh ular api yang saat itu meraung semakin keras.
“Jadi suara apa itu?” teriak Dhian saat raungan ular api semakin keras lagi. Dhian enggan sedikitpun membuka matanya untuk menatap hal apa yang sedang terjadi.
“Kuharap kau tak mau tahu!” balas Violin.
Saat itulah ular api terbang meliuk dan menyusul Violin yang seketika itu menghentikan lajunya. Ular api itu menggeram dan menyemburkan kobaran apinya kepada Violin yang saat itu mengibaskan samurainya berkali-kali untuk menahan semburan api. Violin segera terbang ke kanan untuk menghindari terkaman dari ular api yang kini terbang meliuk menujunya. Violin juga segera meluncur deras menuju ular api yang saat itu membuka rahangnya lebar-lebar, dan dengan samurai yang dibentangkannya Violin menebas rahang ular itu, serta terus meluncur menyusuri tubuh ular hingga samurainya terus membelah tubuh sang ular. Ular itu menjerit keras begitu kesakitan saat tubuhnya mulai terbelah oleh Violin. Dalam pelukan Violin Dhian berteriak keras saat mendengar jeritan sang ular, juga karena tubuhnya terasa terbakar oleh panas dari sang ular api yang mulai melebur karena terbelah itu.
Violin mengibaskan samurainya hingga dalam sekejap wujud ular api itu melebur sepenuhnya menjadi kobaran-kobaran api yang terhempas ke segala arah, dan begitu api sirna Violin segera dikejutkan dengan adanya ribuan tombak berselimut api yang seolah terbang menujunya.
Alih-alih terbang menjauh, Violin justru terbang menyambut ribuan tombak itu dan menebas setiap tombak yang melesat ke arahnya bagaikan angin. Violin kini terhenti di udara dan disibukkan dengan ribuan tombak berapi yang saling melesat ke arahnya. Dengan cermat Violin menangkis setiap tombak itu menggunakan samurainya yang terus dia ayunkan.
Mereka sudah tak peduli lagi dengan Dhian?
Violin terus menebas setiap wujud tombak yang melesat ke arahnya, dan semua tebasannya begitu akurat hingga tak satu pun tombak yang menikamnya maupun Dhian. Puluhan tombak itu terus melesat ke arah Violin namun saat itu pula saling terhempas menjauh begitu menerima tebasan samurai Violin.
“Bisa beritahu apa yang sedang terjadi? Kenapa begitu banyak suara angin yang kudengar?”
“Berhentilah bertanya dan tetap menutup matamu!” balas Violin yang terus menangkis ribuan tombak.
Alih-alih menuruti perintah Violin, Dhian justru membuka matanya dan segera menjerit ketakutan begitu melihat hal apa yang sedang terjadi. Ribuan tombak berselimut api saling meluncur dan terhempas menyingkir di sekitarnya.
“Apa yang kau lakukan? Sudah kubilang tutup matamu!” hardik Violin sambil mengibaskan samurainya hingga menyingkirkan beberapa tombak yang datang.
“Violin!” panggil Dhian yang sepertinya menyadari sesuatu yang lebih mengerikan dari serbuan tombak itu.
Violin menepis puluhan tombak terakhir dan mengakhiri ancaman dari tombak-tombak itu, lalu Violin berbalik ke belakang di mana ribuan Iblis dengan pedang maupun kapak mereka berbondong-bondong terbang ke arahnya.
“Kali ini jangan bantah aku, Dhian! Tutup matamu!” ucap Violin lirih.
Dhian menurut, kemudian Violin berteriak begitu keras mengimbangi teriakan balatentara Iblis yang datang dari depan itu. Violin terbang melesat menuju pasukan Iblis itu sambil mengibaskan samurainya hingga tercipta sayatan udara yang melesat dan menyayat hancur barisan terdepan. Violin semakin mempercepat lajunya dan segera menyusup ke dalam pasukan Iblis dengan tebasan-tebasannya yang dengan telak mencabik-cabik puluhan Iblis. Dia terus melaju menembus pasukan Iblis dengan berbagai serangan yang dia lakukan hingga hujan darah Iblis tumpah ke daratan karang di bawah mereka.
Ribuan Iblis itu berusaha menghentikan laju Violin, namun semua yang berusaha menghadang Violin hanya akan tercabik-cabik oleh tebasan Violin.
Minggir!... aku harus segera menyerahkan Dhian kepada Ezhen!
Violin berteriak keras dan menebas puluhan Iblis di hadapannya, dan kini Violin terbang melesat ke atas dengan semua serangannya kepada Iblis-Iblis yang mencoba menahannya.
Sementara itu di bawah sana ribuan tentara Iblis lain saling membentuk formasi melingkar dan mereka mengobarkan api yang begitu membara ke pusat lingkaran mereka, hingga seluruh api saling berterjangan dan menciptakan gelegar dahsyat yang membahana ke penjuru tempat itu.
“Bangkitlah, Lucifer!” pekik salah satu Iblis diikuti oleh ribuan Iblis lain yang terus mengobarkan api ke pusat.
Violin yang tadinya tidak acuh akan hal yang ada di bawah sana kini mulai memperhatikannya. Dia terhenti di udara sambli terus mencabikkan tebasannya kepada pasukan Iblis yang kini tinggal ratusan.
“Bangkitlah, Lucifer!” ulang salah satu Iblis di bawah sana yang diikuti oleh ribuan Iblis lain.
Seketika itu dari pusat berterjangannya seluruh api, raungan mengerikan terdengar begitu keras beriring dengan samar-samar terlihatnya mata mengerikan di antara api.
Violin yang menyadarinya segera meluncur ke atas sambil terus menebas Iblis-Iblis yang saat itu hanya tersisa puluhan. Violin terbang menembus barisan Iblis dan menikam salah satu Iblis yang berusaha menghadangnya, kemudian dikoyaknya perut Iblis itu hingga tubuh sang Iblis jatuh ke bawah begitu cepat. Violin melanjutkan terbangnya menuju awan meninggalkan sekitar empatpuluh Sembilan Iblis yang tersisa di bawahnya.
“Bangkitlah, Lucifer!” pekik salah satu Iblis yang kembali diikuti ribuan Iblis lain.
Saat itulah raungan mengerikan pada pusat berterjangannya api kian keras beriring dengan munculnya sesosok ular raksasa berjumbai di kepalanya yang mengamuk di antara api. Ular itu memiliki dua tanduk hitam yang meliuk di kepalanya dan taring-taring tajam berliurkan maghma. Seluruh tubuh ular yang disebut Lucifer itu dipenuhi sisik-sisik duri berwarna hitam kemerahan yang tampak begitu tajam. Seketika itu sosok Lucifer yang masih bermandikan kobaran api dari ribuan Iblis segera menerkam beberapa Iblis di sekitarnya hingga secara perlahan tubuhnya kian membesar.
“Ya Tuhan!” ucap Violin yang saat itu terhenti di udara menatap sosok Lucifer yang mengamuk di antara api hingga wujudnya semakin bertambah raksasa.
“Apa lagi, Violin?” tanya Dhian.
“Tetap tutup matamu!” balas Violin sambil mengeratkan pelukannya terhadap Dhian.
Saat itulah sang Lucifer membuka lebar rahangnya dan menyemburkan jutaan liter maghma panas ke segala penjuru tempat itu hingga tsunami maghma tercipta. Bahkan ribuan Iblis yang membangkitkannya pun menjadi korban dari amukan sang ular setan itu. Seisi daratan karang itu kini berpijar dan membara oleh banjir maghma panas yang semakin meluas, dan saat itulah Lucifer meraung begitu keras serta memaku tatapannya ke arah Violin.
“Oh tidak, ini gawat,” ucap Violin dan bergegas meluncur ke atas menjauhi tempatnya tadi berdiam.
Saat itulah Lucifer kembali meraung dan menyemburkan maghma panasnya kepada Violin yang berada jauh di atasnya. Dalam sekejap semburan maghma itu sampai di bawah Violin, hingga Violin berpaling ke bawah dan mengibaskan samurainya untuk membelah semburan maghma itu. Maghma saling meluncur di sekitar Violin namun Violin berhasil lolos dari terjangan maghma itu.
“Violin, apa itu?.. panas sekali!” jerit Dhian.
Violin menghempas semua maghma itu, namun saat itulah sosok Lucifer menjulurkan tubuhnya begitu panjang hingga kepalanya berada tepat di hadapan Violin yang terkejut setengah mati. Tubuh Violin hanya bagaikan sebutir kelereng dibandingkan dengan sosok Lucifer yang saat itu meraung keras dan berusaha menerkam Violin. Dhian menjerit ketakutan oleh raungan itu. Violin segera terbang mundur menghindari terkaman Lucifer. Violin mengibaskan samurainya hingga sayatan udara tercipta dan menerjang rahang Lucifer, akan tetapi hal itu hanya membuat Lucifer semakin geram, dan kembali berupaya menerkam Violin. Violin terbang ke kanan melewati taring-taring tajam Lucifer dan selamat dari terkaman, kemudian dengan cepat Violin meluncur ke mata Lucifer dan menghujamkan tikaman samurainya pada mata itu. Lucifer meronta kesakitan dan jeritannya beradu dengan teriakan Violin yang terus mengoyak-oyak mata Lucifer. Dalam sekali kibasan kepala, tubuh Violin beserta Dhian yang terus dipeluknya terhempas dari mata Lucifer dan terpelanting tak terkendali ke belakang. Lucifer menggeram dan membuka rahangnya hingga aliran maghma muncul dan terbendung di sela kedua rahangnya, sebelum maghma itu disemburkan ke arah Violin dalam wujud bola maghma yang begitu membara. Violin yang menyadarinya segera membentangkan kedua sayapnya hingga dia terhenti, kemudian beriring teriakannya dia menebas hancur bola maghma itu sebelum sempat menerjangnya, namun sedetik kemudian Violin dikejutkan oleh munculnya rahang Lucifer yang berada tepat di hadappannya. Saking terkejutnya Violin tak sempat terbang ke belakang hingga Violin kini berada tepat pada mulut Lucifer yang nyaris tertutup. Violin segera mengibaskan samurainya untuk menyayat rahang atas Lucifer hingga membuat ular itu menjerit kesakitan dan segera membuka lebar rahangnya. Violin segera terbang keluar menghindari taring-taring panas Lucifer, dan kini dia berada tepat di kanan kepala ular yang menggeram kesal tersebut. Violin mengibaskan samurainya hingga sayatan udara terhempas menerjang kepala Lucifer yang saat itu semakin menggeram. Violin segera terbang mundur dan terhenti puluhan rentang dari Lucifer yang saat itu menggeram sambil berpaling ke arah Violin. Rahang ular itu sedikit terbuka dan liur-liur maghma saling mengalir deras dari taring-taringnya.
“Violin, apa yang sedang kau hadapi?”
“Tutup saja matamu!” balas Violin.
Saat itulah Lucifer meraung keras dan menjulurkan kepalanya ke arah Violin berusaha menerkamnya, akan tetapi Violin segera terbang mundur menghindari terkaman, dan dia segera menghujamkan tebasan samurainya kepada kepala Lucifer, sebelum tebasannya termentahkan oleh sedemikian kerasnya kepala Lucifer.
“Sial!”
Lucifer mengibaskan kepalanya hingga tubuh Violin serta Dhian terhempas begitu kencang ke belakang, lalu Lucifer menjulurkan kepalanya ke atas dan meliukkan kepalanya ke arah Violin dari atas berusaha menerkam Violin. Violin yang segera sadar akan hal itu, kemudian terbang ke bawah menghindari terkaman Lucifer yang saat itu terus menekan Violin ke bawah. Violin menebaskan samurainya berkali-kali terhadap taring-taring Lucifer yang terus menekannya ke bawah, namun setiap tebasan Violin yang menghujam bertubi itu termentahkan oleh taring-taring Lucifer. Violin menoleh ke bawah, dan di bawah sana Violin mampu menatap tubuh ular Iblis itu yang terjulur begitu panjang hingga kepalanya berada di atasnya. Tebasan-tebasan Violin masih saja menerjang sia-sia taring Lucifer yang saat itu menggeram hingga pada akhirnya membuka lebar rahangnya berusaha menerkam Violin, hingga Violin segera terbang ke kanan membiarkan kepala Lucifer meluncur dan menerkam kekosongan. Violin yang berada tepat di kanan kepala Lucifer segera menebas jumbai di kepala Lucifer hingag merobeknya, dan hal itu membuat Lucifer meronta kesakitan. Dengan segera Lucifer meliukkan kepalanya hingga menghadap Violin dan berusaha menerkamnya, namun Violin segera terbang mundur dan kali ini segera menebas kepala keras Lucifer hingga sayatan udara tercipta dan meluncur menyusuri kepala Lucifer hingga akhirnya menyayat salah satu Jumbai di kepala ular itu lagi. Lucifer kembali meronta kesakitan dan mengibaskan kepalanya ke atas hingga Violin terhempas begitu deras ke atas.
Di mana kau, Ezhen?
Lucifer menggeram penuh amarah dan menyemburkan nafas panasnya ke arah Violin di atas sana. Violin segera mengibaskan samurainya berkali-kali untuk menciptakan rongga udara di antara semburan nafas panas Lucifer. Saat itulah Lucifer menjulurkan kepalanya ke atas berusaha menerkam Violin yang saat itu terbang ke kiri menghindari terkeman sekaligus terbang menuju jumbai kiri Lucifer dan merobeknya dalam sekali tebas. Lucifer kembali menjerit keras, dan Violin segera terbang ke arah mata kiri Lucifer berusaha menerkamnya, akan tetapi sasaat sebelum ujung samurai Violin menghujamnya, Lucifer menutup kedua matanya hingga Violin menikam kelopak mata Lucifer yang begitu keras.
“Kurang ajar!”
Lucifer meraung dan mengibaskan kepalanya ke kiri hingga Violin dan Dhian yang masih ada di kepalanya terhempas begitu deras ke belakang. Lucifer membuka lebar kedua rahangnya dan menjulurkan kepalanya ke arah Violin yang masih terpelanting berusaha menerkamnya lagi. Dalam sekali bentangan sayap, Violin terhenti dan melancarkan sebuah tebasan yang saat itu berterjangan dengan taring-taring Lucifer. Entah apa yang tengah dipikirkan Violin hingga membuatnya mencoba untuk beradu dorong dengan sosok ular Iblis itu. Violin berteriak begitu keras dalam upayanya mendorong kepala Lucifer, biarpun demikian dalam sekali kibasan kepala Lucifer, Violin terpelanting ke belakang begitu kencang hingga Dhian nyaris terlepas dari pelukannya. Violin kembali membentangkan kedua sayapnya untuk terhenti dan segera menatap Lucifer yang menggeram penuh amarah. Violin menggenggam erat samurainya dan menekankan seluruh tenaganya kepada bilah samurai itu. Violin menggeram begitu keras untuk semakin menjejalkan tenaga pada bilah samurainya yang saat itu dia kibaskan ke arah Lucifer yang juga berusaha mendekatinya. Sejurus kemudian dari kibasan Violin muncul sebuah sabit udara yang melesat begitu cepat menuju kepala Lucifer yang semakin dekat dengannya, lalu tiba-tiba sabit udara itu berubah arah, meluncur sedikit ke bawah ke arah jumbai yang ada di sekitar leher Lucifer, dan dalam sekali terjangan, sabit udara itu mampu mencabik-cabik jumbai itu hingga Lucifer menjerit kesakitan dan mengibaskan kepalanya ke atas.
Violin kembali menghimpun seluruh tenaganya pada bilah samurainya, dan dengan sekali kibasan sayap Violin melesat bagaikan kilat dan kini berada tepat di atas kepala Lucifer yang masih menjerit kesakitan. Tanpa membuang waktu, Violin menebaskan samurainya yang penuh tenaga pada kepala keras Lucifer, hingga sebuah getaran terbentang begitu dahsyat dan menghempas kepala Lucifer ke bawah dalam rintihan-rintihannya.
“Ezhen!” panggil Violin lirih dan menolah ke atas.
Saat itulah seberkas cahaya muncul di antara kelabu awan dan menyinari Violin yang saat itu tersenyum. Dengan segera Violin terbang membawa Dhian yang masih dalam pelukannya menuju cahaya yang semakin terang itu, meninggalkan sosok Lucifer yang menggeram kesal di bawah sana.
“Buka matamu, Dhian!” pinta Violin dengan senyumnya.
Dhian menurut dan secara perlahan membuka matanya untuk menatap Violin yang masih tersenyum begitu lebar. Violin yang semula menatap langit di mana cahaya terus terpancar, kini menatap mata Dhian yang juga menatapnya dalam diam.
“Lihatlah aku baik-baik, Dhian! Ingatlah aku dan jangan pernah berniat melupakanku!” ucap Violin.
“Apa maksudmu?”
“Ikuti saja! Anggap ini permintaan terakhirku!”
“Violin?” panggil Dhian tak mengerti.
“Lihatlah! Sang Ezhen telah menjemputmu untuk ke Surga,” balas Violin sambil menatap cahaya yang semakin terang itu.
“Sang Ezhen?”
Violin terus mengibaskan kedua sayapnya untuk terbang menuju cahaya terang yang terhalau oleh kelabu awan itu, hingga akhirnya Violin mampu menyusup ke dalam cahaya dan terhenti.
“Mulai saat ini Sang Ezhenlah yang akan menuntunmu ke Surga, Dhian. Aku hanya bisa manghantarmu sampai di sini,”
“Apa maksudmu?” tanya Dhian.
Violin hanya tersenyum untuk menjawab pertanyaan Dhian. Violin menatap baik-baik mata indah gadis yang masih dipelukannya itu. Mata yang takkan pernah dilupakannya.
“Hey!” panggil Dhian saat pertanyaanya tak terjawab.
“Ingatlah selalu aku!” Violin menengadahkan kepalanya ke atas. “Sang Ezhen!” panggil Violin pelan.
Saat itulah sekumpulan cahaya di atas Violin dan Dhian saling terlihat membentuk dua tangan cahaya dan secara perlahan merebut Dhian dari Violin. Dhian terkejut kemudian berpaling mencari sosok yang saat itu terus mengangkat raganya dan sosok itu terlihat begitu terang dengan sayap putihnya yang begitu indah.
“Violin!” panggil Dhian yang terus terpisah dari Violin.
“Ingatlah selalu aku! Dan jangan menjadi pemberontak seperti halnya aku!” balas Violin dengan senyumnya untuk gadis yang semakin melayang tinggi di antara bentangan cahaya tersebut.
“Kau yang terberani yang pernah kutemui, Violin. Karena itu gunakanlah cahaya ini sesukamu!” ucap Ezhen yang saat itu menjulurkan tangan kanannya ke arah Violin, hingga cahaya yang begitu terang terjulur kepada Violin yang menerima cahaya dengan samurainya.
“Jaga dia, Sang Ezhen! Awas bila kau menyakitinya,” balas Violin, dia terus saja menerima pancaran cahaya dari Ezhen yang saat itu terbang menjauh membawa Dhian untuk pergi dari tempat itu.
Di bawah sana, Lucifer meraung keras dan menyemburkan jutaan liter maghma panasnya ke arah Violin, dan dengan teriakannya Violin menjulurkan samurai yang penuh cahayanya, hingga sebuah pilar cahaya terjulur begitu cepat dari samurai Violin dan menerjang semburan maghma serta menghempasnya menjauh. Pilar cahaya itu terus terpancar dan saat ini dengan telak menyambar rahang Lucifer dan terus terpancar menembus tubuh ular Iblis itu, hingga dalam sekejap sekujur tubuh Lucifer yang begitu panjang dan raksasa memancarkan cahaya terang yang terbendung dalam dirinya, sebelum pada akhirnya cahaya itu meledak begitu dahsyat dan terbentang ke segala arah beserta gelegar keras yang menenggelamkan raungan Lucifer yang saat itu terjatuh begitu deras ke bawah.
“Merintihlah di bawah kakiku, Wahai Iblis!” ucap Violin lirih sambil mengibaskan samurainya, hingga dalam seketika cahaya terpancar dan terbentang pada daratan karang jauh di bawahnya hingga menciptakan sebuah ledakan dahsyat yang saling meruntuhkan tebing-tebing karang di penjuru tempat itu beriring dengan cahaya yang semakin terang dan menyebar ke penjuru ledakan yang belum juga berakhir.
****

Selasa, 10 Mei 2011

Dirge of Vlateriium (Risalah tujuh Neraka dan Sang Pemegang Kesucian)

Sebuah Novel :
Dirge of vlateriium

Risalah 7 Neraka & Sang Pemegang Kesucian

-(Even Angel Cry)-

By: D. A. RiyanT




Tempat itu ada…….
Adalah dunia di mana kita dapat tertawa… membiarkan kebahagiaan yang tak hentinya keluar di antara mulut-mulut yang terbuka…
Adalah dunia di mana kita merasa sedemikian aman dalam dekapan orang yang kita sayangi saat ketakutan muncul dalam hati…
Adalah dunia di mana kadang kita menangis… menangis tersendu dalam sunyinya suatu kesendirian…
Adalah dunia di mana kita belajar mencintai…
Adalah dunia di mana bahkan membenci seseorang pun terasa begitu indah…
Adalah dunia di mana kita begitu bebas ‘Hidup… dan mencintai…’
…..VLATERIIUM……
========================================================

(Read more!...http://fiksifantasiku.blogspot.com/p/dirge-of-vlateriium-risalah-tujuh.html)

Senin, 09 Mei 2011

Heaven of Forbidden Dream

Tersebutlah suatu keajaiban yang menghantar manusia ke tempat ini….
Terhempas memasuki dunia penuh cahaya syahdu…
Di mana senyum bahagia menghiasi wajahmu tiada akhir…
Mampu menatap sempurnanya langit dengan uraian awan putih yang kian membuatnya indah…
Suatu tempat dimana kau akan melupakan kepedihan yang kau alami selama di duniamu…

………..-HEAVEN……….
***********************************************************************



Aku pernah terhempas memasuki dunia Kematian… dunia di mana semua orang yang telah mati, terlahir kembali ke dalam dunia Kematian,… menjalani kehidupan mereka menjadi seorang Atnaf dalam dunia yang juga disebut dengan “Forbidden Dream”, sebelum pada akhirnya mereka para Atnaf kembali harus meninggalkan suatu dunia ke dunia lain yakni Akhirat…

(Read more!...http://fiksifantasiku.blogspot.com/p/heaven-of-forbidden-dream.html)

Zurra Vloreanth (Perobekan takdir hitam) fantasy fiesta 2011

L
angit begitu gelap kala itu. Begitu suram oleh tak kuasanya menahan tangis yang kini dengan derasnya berjatuhan. Saling dengan deras menerjang bebatuan hitam yang melayang di udara tepat di bawah kelabunya awan. Kala itu derasnya air langit saling bercampur baur dengan genangan darah manusia yang membanjiri penjuru bongkahan hitam yang terbebas dari gravitasi.
Begitu banyak mayat manusia yang dengan tragis terbunuh, hancur oleh kuasa jahat yang coba mereka singkirkan. Tak ada satu pun di sana yang masih berdiri dan mencoba melangkah… melangkah menembus sisa-sisa hancurnya suatu bangunan hitam yang menjadi tujuan mereka yang mati di sana. Semuanya mati. Kecuali satu. Satu yang takkan pernah mati. Satu yang terkutuk.

(read more!...http://fiksifantasiku.blogspot.com/p/zurra-vloreanth-perobekan-takdir-hitam.html)